Tanpa Titik, Tapi Selesai

Sudah tiga bulan sejak terakhir kali mereka bicara. Bukan karena bertengkar. Bukan karena saling benci. Tapi karena diam. Dia berhenti mengabari, dan kamu terlalu takut untuk bertanya kenapa.

Hari-hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak akan datang. Kamu cek notifikasi berkali-kali, berharap ada pesan singkat darinya. Bahkan sekadar "apa kabar?" pun cukup—tapi tetap tak ada.

Awalnya kamu pikir dia hanya sibuk. Lalu kamu mulai mencari alasan: mungkin capek, mungkin butuh ruang, mungkin ada masalah. Tapi "mungkin-mungkin" itu tak pernah membawa jawaban. Hanya menambah luka, seperti menggaruk kulit yang tak gatal, makin perih tanpa sebab yang jelas.

Sampai akhirnya kamu berhenti menunggu.

Kamu sadar, dia memilih diam bukan karena tak punya kata, tapi karena memang tak ingin bicara lagi. Dan dari semua kemungkinan, itu adalah yang paling menyakitkan tapi paling jujur.

Kamu tidak dapat kata pamit. Tidak ada penjelasan. Tapi justru dari ketidakhadiran itu, kamu belajar satu hal:

"No closure is a closure."

Tidak semua cerita butuh tanda titik di akhir kalimat. Kadang, hening yang panjang sudah cukup jadi tanda bahwa kisah itu telah usai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Biasa, Tapi Tetap Sakit

Aku dan 7 Tahun