Cinta di Usia 20-an
Cinta di umur 20-an terasa berbeda.
Ia bukan lagi sekadar kisah manis yang ditulis dengan tergesa, tapi cerita terakhir yang kita tulis pelan-pelan hati-hati, seakan setiap kata adalah investasi terakhir yang kita punya.
Di usia ini, kita sudah tahu rasanya dihancurkan berkali-kali. Kita paham sakitnya memberi segalanya lalu ditinggalkan seolah tak berarti. Maka saat ada yang datang, kita tidak lagi berlari; kita berjalan, mengukur jarak, memastikan langkah ini tidak sia-sia.
Energi yang kita keluarkan adalah sisa dari banyak perjuangan sebelumnya.
Kepercayaan yang kita berikan adalah kepercayaan terakhir, yang sudah melalui proses panjang untuk kembali utuh.
Harapan yang kita titipkan adalah harapan terakhir rapuh tapi tulus, diselipkan dalam doa setiap malam, agar hubungan ini bukan sekadar singgah, tapi benar-benar menjadi tujuan.
Di umur ini, cinta bukan lagi tentang siapa yang membuat kita berbunga-bunga di awal, tapi siapa yang mau tetap duduk di sebelah kita sampai akhir cerita.
Dan jika hubungan ini berhasil, kita tahu… inilah rumah yang selama ini kita cari.
Komentar
Posting Komentar