Dulu Pikirku Dewasa Itu Indah
Dulu, waktu kecil, aku selalu pengen cepat-cepat dewasa.
Aku iri lihat orang dewasa bisa tidur larut, keluar rumah sendiri, makan mie kapan aja, dan gak disuruh-suruh mandi.
Kupikir, jadi dewasa itu seperti jadi pahlawan di film—kuat, bebas, dan berani.
Tapi ternyata, dewasa datang tanpa aba-aba.
Dia datang pelan, lewat tagihan listrik yang harus dibayar sendiri, lewat isi dompet yang kadang cuma cukup buat makan sehari.
Datang lewat malam-malam sepi yang harus dilawan sendirian, karena semua orang sibuk dengan perang mereka masing-masing.
Dewasa itu bukan soal bisa beli barang pakai uang sendiri, tapi tentang menahan diri untuk gak beli apa-apa, karena harus bayar kos, bayar cicilan, bantu keluarga.
Dewasa itu bukan soal bisa memilih sesuka hati, tapi tentang belajar menerima kenyataan dari pilihan yang tidak selalu membahagiakan.
Kadang, aku kangen jadi anak kecil lagi.
Yang satu-satunya tanggung jawabnya cuma ngerjain PR dan tidur tepat waktu.
Yang kalau jatuh, tinggal nangis dan ada yang datang menenangkan.
Sekarang, kalau jatuh... aku harus bangkit sendiri.
Karena orang-orang cuma bisa tanya, "Kamu kenapa?" tanpa benar-benar ingin tahu jawabannya.
Jadi ya, dewasa itu nyata... tapi gak selalu indah.
Dan aku mulai sadar, bahwa dulu... saat aku ingin cepat dewasa, aku sedang berdiri di masa paling damai dalam hidupku, tanpa aku sadari.
Komentar
Posting Komentar