Ketika Aku Tak Lagi Bertaruh
Aku sudah lama berjalan sendirian.
Bukan karena tak ingin bersama,
tapi karena terlalu sering pulang
dengan tangan hampa
meski telah menyerahkan segalanya.
Dulu, aku pernah mengorbankan waktu,
menyisihkan tenaga,
mengalirkan materi,
dan memberikan hati
hanya untuk cinta yang akhirnya pergi
tanpa menoleh sedikit pun.
Kini, aku tetap memandang
mereka yang saling menggenggam tangan
dengan mata yang sama:
ada iri, ada rindu,
tapi tak lagi ada hasrat untuk bertaruh.
Aku ingin dicintai,
tapi tidak lagi ingin kehilangan diriku demi itu.
Jika cinta datang,
biarlah dia yang menunjukkan jalannya,
membuktikan bahwa aku tak harus berperang sendirian,
bahwa mencinta tak selalu berarti luka.
Aku telah terlalu lama sendiri
untuk kembali rela hancur demi orang lain.
Jadi jika kelak aku jatuh cinta,
itu bukan karena aku mencari separuh jiwaku,
tapi karena aku menemukan seseorang
yang membuatku merasa utuh
tanpa perlu kehilangan apa-apa.
Komentar
Posting Komentar