Laki-laki yang Diam dan Rumah yang Tak Pernah Ada

 Aku bukan tipe lelaki yang pandai bercerita. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tak tahu bagaimana harus memulai. Kata-kata sering kali tertahan di tenggorokan, dan ketika semuanya terlalu berat, aku lebih memilih diam.

Bukan tak punya luka. Tapi aku tahu, tidak semua orang siap mendengar luka yang kusembunyikan.

Setiap kali masalah datang bertubi-tubi pekerjaan, keluarga, tekanan hidup  aku mencari tempat untuk pulang. Bukan rumah dalam bentuk bangunan, tapi seseorang... atau sesuatu... yang bisa jadi pelukan saat dunia terasa terlalu asing.

Tapi nyatanya, aku tak punya itu.

Teman-temanku bilang aku kuat. Tegas. Tahan banting. Mereka tak tahu, bahwa setiap malam aku berbicara dengan langit-langit kamar, berharap ada satu saja alasan untuk tetap berdiri esok hari.

Kadang aku duduk di warung kopi pinggir jalan, menyulut sebatang rokok, menatap kosong ke jalanan, pura-pura sibuk dengan ponsel. Bukan karena ada yang kucari, tapi karena aku sedang menunggu
bukan seseorang, tapi rasa tenang yang entah di mana.

Aku ingin bercerita. Tapi pada siapa?

Aku ingin pulang. Tapi ke mana?

Dan begitulah aku menjalani hari. Dalam diam, dalam letih, dalam upaya menyembunyikan retak yang sudah terlalu dalam. Aku berjalan sendiri, bukan karena kuat, tapi karena tak ada pilihan lain.

Aku lelaki yang diam dan sedang mencari rumah di dunia yang tak pernah benar-benar memberiku tempat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Biasa, Tapi Tetap Sakit

Aku dan 7 Tahun

Tanpa Titik, Tapi Selesai