Pergi Tanpa Suara
Kadang laki-laki tidak memilih bercerita.
Bukan karena tidak percaya, bukan juga karena tidak peduli.
Tapi karena dia sendiri belum tahu bagaimana harus menjelaskan rasa sesak yang bahkan tak bisa dia uraikan kepada dirinya sendiri.
Dia terbiasa menanggung semuanya sendiri—masalah keluarga, tekanan hidup, tuntutan yang tak pernah berhenti. Semuanya ditahan di dada, seakan kuat padahal sudah retak dalam diam.
Dan saat semuanya datang bersamaan, bukan pelukan yang dia cari.
Bukan kata-kata penguatan, apalagi nasihat panjang.
Dia hanya ingin hilang sejenak—dari dunia, dari beban, bahkan dari orang yang dia cintai.
Dia tahu, itu menyakitkan.
Dia sadar, diamnya bisa membuat orang lain merasa tak berarti.
Tapi baginya, menghilang adalah satu-satunya cara untuk tidak menyakiti lebih dalam.
Karena kalau dia tetap tinggal saat jiwanya berantakan, dia takut akan merusak segalanya—termasuk hubungan yang ia jaga dengan sisa tenaga.
Jadi, kalau kamu mencarinya dan dia tak membalas...
Bukan karena dia tak lagi sayang.
Bukan juga karena ada orang lain.
Tapi karena dunia di kepalanya terlalu bising, dan dia sedang mencoba bertahan tanpa harus terlihat lemah.
Dan mungkin...
di tempat sunyi itu, dia sedang mendoakanmu tetap bahagia,
meski dia belum siap untuk kembali.
Komentar
Posting Komentar