Pindah Terakhir

 Hari ini aku berkemas.

Bukan hanya barang-barang yang kupindahkan… tapi juga kenangan. Kotak demi kotak, ada yang berisi pakaian, ada yang berisi buku, tapi yang paling berat adalah kotak yang tak terlihat—kotak kenangan tentangmu.

Lucunya, pindah rumah ini rasanya seperti pindah dari sebuah cerita yang tidak selesai. Aku pikir kita akan menulis akhir yang bahagia. Tapi ternyata, kamu lebih dulu pergi… dan aku hanya bisa mengepak sisa-sisa yang tertinggal.

Setiap sudut kamar ini punya cerita. Dinding ini pernah jadi saksi ketika aku menatap layar ponsel, menunggumu membalas pesan. Kasur ini tahu betapa seringnya aku terjaga, menanti suara notifikasi yang tak kunjung datang. Bahkan jendela ini... pernah jadi tempat aku mengirim doa-doa yang diam-diam kusisipkan namamu.

Tapi sekarang semua harus dibawa pergi, atau ditinggalkan.

Cinta kita, kalau dipikir-pikir, juga seperti rumah ini—awalnya nyaman, lama-lama retak di sana-sini. Dan ketika terlalu banyak bagian yang bocor, aku sadar... kita tak bisa tinggal di dalamnya lagi.

Jadi, hari ini aku pamit. Bukan hanya dari rumah ini, tapi juga dari harapan tentang kita.

Mungkin aku akan menemukan rumah baru—yang tidak lagi dipenuhi bayangmu. Dan semoga suatu hari nanti... aku juga bisa menemukan cinta baru, yang tidak lagi membuatku merasa seperti orang yang tinggal sendirian dalam hubungan yang seharusnya berdua.

Hari ini aku berkemas. Tapi untuk pertama kalinya... aku juga membebaskan diriku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Biasa, Tapi Tetap Sakit

Aku dan 7 Tahun

Tanpa Titik, Tapi Selesai