Tertahan di Ujung Lidah

Pernah gak kamu ngerasain, gimana rasanya ingin bilang I love you, tapi gak pernah bisa?

Bukan karena gak yakin sama perasaannya, tapi karena tahu, setelah itu segalanya bisa berubah.

Aku pernah.

Dan masih, sampai sekarang.

Setiap kali dia duduk di sampingku, ketawa lepas, cerita tentang harinya yang menyebalkan atau hal-hal kecil yang buat dia bahagia, aku cuma bisa senyum.

Padahal di dalam kepala, kalimat itu terus berputar—

“Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. I love you.”

Tapi yang keluar cuma,

“Hati-hati ya pulangnya.”

atau,

“Jangan lupa makan.”

Kata-kata aman yang sebenarnya hanya selimut untuk kalimat yang tak pernah berani aku ucapkan.

Karena aku tahu, sekali aku bilang I love you, mungkin dia akan diam.

Mungkin dia gak akan lihat aku dengan cara yang sama lagi.

Mungkin… aku akan kehilangan satu-satunya tempat di mana aku bisa jadi diri sendiri.

Lucu ya.

Kata sesederhana itu, tiga kata, delapan huruf, bisa menakutkan sekali.

Bisa mengguncang hubungan yang selama ini terasa nyaman, meski gak pernah punya label.

Jadi aku simpan.

Rapat-rapat.

Di dada yang kadang sesak kalau lihat dia dekat orang lain.

Di malam-malam panjang saat hanya bayangnya yang menemani.

Aku cinta dia. Tapi biar cinta ini hidup diam-diam.

Biar dia tetap di dekatku, meski tak pernah tahu.

Karena kadang…

kata I love you bukan untuk diucapkan.

Hanya untuk dirasakan, disembunyikan, dan… diam-diam, dijaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudah Biasa, Tapi Tetap Sakit

Aku dan 7 Tahun

Tanpa Titik, Tapi Selesai