Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Saat Semua Orang Menemukan, Aku Masih Mencari

Kadang, ada rasa iri yang sulit dijelaskan. Melihat anak kecil yang baru mengenal dunia, sudah memegang tangan seseorang dengan senyum lebar, seolah cinta adalah hal yang mudah. Melihat orang yang sudah jauh lebih tua dariku, akhirnya menemukan pasangannya membuktikan bahwa cinta tak mengenal usia. Sementara aku… masih di sini. Sendiri. Bukan karena tak mau mencoba, tapi karena hati ini tak bisa sembarangan memilih. Aku pernah jatuh, pernah terluka, dan tahu betul rasanya membangun harapan lalu melihatnya runtuh begitu saja. Ada momen ketika aku bertanya-tanya, “Apa aku yang terlalu sulit? Atau memang cinta sedang berjalan lambat menuju arahku?” Kadang aku mencoba menghibur diri, bilang bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Tapi tetap saja, saat melihat orang lain bahagia, ada sedikit rasa kosong yang tak bisa kubohongi. Namun di balik semua itu, aku percaya… mungkin Tuhan sedang menyiapkan cerita yang panjang, bukan sekadar kilatan singkat. Dan sampai hari itu datang...

Cinta di Usia 20-an

Cinta di umur 20-an terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar kisah manis yang ditulis dengan tergesa, tapi cerita terakhir yang kita tulis pelan-pelan hati-hati, seakan setiap kata adalah investasi terakhir yang kita punya. Di usia ini, kita sudah tahu rasanya dihancurkan berkali-kali. Kita paham sakitnya memberi segalanya lalu ditinggalkan seolah tak berarti. Maka saat ada yang datang, kita tidak lagi berlari; kita berjalan, mengukur jarak, memastikan langkah ini tidak sia-sia. Energi yang kita keluarkan adalah sisa dari banyak perjuangan sebelumnya. Kepercayaan yang kita berikan adalah kepercayaan terakhir, yang sudah melalui proses panjang untuk kembali utuh. Harapan yang kita titipkan adalah harapan terakhir rapuh tapi tulus, diselipkan dalam doa setiap malam, agar hubungan ini bukan sekadar singgah, tapi benar-benar menjadi tujuan. Di umur ini, cinta bukan lagi tentang siapa yang membuat kita berbunga-bunga di awal, tapi siapa yang mau tetap duduk di sebelah kita sampai akhir c...

Saat Hati Tak Berkabar

 Ada kalanya hati punya jalannya sendiri tak mengikuti logika, tak peduli rencana. Tanpa aba-aba, tanpa peringatan, ia diam-diam menumbuhkan rasa pada seseorang yang bahkan tak pernah kita pikirkan sebelumnya. Awalnya hanya sapaan biasa, sekadar tatap singkat, atau obrolan ringan yang tak berarti apa-apa. Tapi entah bagaimana, perlahan-lahan ada sesuatu yang berubah. Kita mulai menunggu kehadirannya, mencari-cari bayangnya di antara keramaian, dan merasa aneh ketika sehari saja tak mendengar kabarnya. Tak ada gong yang menandai kapan rasa itu mulai tumbuh. Tak ada tanda “hati-hati, ini cinta” yang mengingatkan kita untuk bersiap. Tahu-tahu, kita sudah tersenyum sendirian saat mengingatnya. Tahu-tahu, kita mulai menyusun alasan untuk sekadar berada di dekatnya. Dan di situlah kita sadar… Cinta kadang datang bukan dengan dentuman, tapi dengan bisikan. Bukan lewat pintu depan yang megah, tapi lewat celah kecil yang bahkan tak kita sadari terbuka. Lalu diam-diam, ia tinggal di hati...

Kamu Tetap Pantas

Dengar yahhh..... Aku mau kamu percaya satu hal ini: kamu pantas disayang. Kamu pantas dicintai. Bukan cuma karena kamu baik atau sabar, tapi karena kamu adalah kamu dengan semua hal yang membuatmu unik. Dengan semua cerita, tawa, bahkan air mata yang sudah pernah kamu lewati. Aku tahu, mungkin kamu pernah dikecewakan. Pernah merasa tidak cukup. Pernah disalahpahami. Tapi itu semua tidak mengurangi nilaimu sedikit pun. Kamu tetap berharga. Kamu tetap layak. Kamu bukan beban. Kamu bukan pilihan terakhir. Kamu adalah seseorang yang kehadirannya berarti, yang cintanya tulus, dan yang hatinya layak dijaga. Jadi, biarkan aku yang benar-benar tulus menunjukkan itu. Karena mencintaimu adalah hal yang wajar. Karena menyayangimu adalah hal yang pantas.

Ketika Aku Tak Lagi Bertaruh

Aku sudah lama berjalan sendirian. Bukan karena tak ingin bersama, tapi karena terlalu sering pulang dengan tangan hampa meski telah menyerahkan segalanya. Dulu, aku pernah mengorbankan waktu, menyisihkan tenaga, mengalirkan materi, dan memberikan hati hanya untuk cinta yang akhirnya pergi tanpa menoleh sedikit pun. Kini, aku tetap memandang mereka yang saling menggenggam tangan dengan mata yang sama: ada iri, ada rindu, tapi tak lagi ada hasrat untuk bertaruh. Aku ingin dicintai, tapi tidak lagi ingin kehilangan diriku demi itu. Jika cinta datang, biarlah dia yang menunjukkan jalannya, membuktikan bahwa aku tak harus berperang sendirian, bahwa mencinta tak selalu berarti luka. Aku telah terlalu lama sendiri untuk kembali rela hancur demi orang lain. Jadi jika kelak aku jatuh cinta, itu bukan karena aku mencari separuh jiwaku, tapi karena aku menemukan seseorang yang membuatku merasa utuh tanpa perlu kehilangan apa-apa.

Andai Kamu Mencariku

Aku tahu... aku terlihat seperti laki-laki yang lari. Menghilang begitu saja tanpa kabar, tanpa pamit, tanpa penjelasan. Tapi percayalah, bukan itu yang benar-benar aku inginkan. Aku sedang lelah. Bukan hanya karena satu masalah, tapi semuanya datang sekaligus—seperti gelombang yang menenggelamkan. Dan saat hidupku mulai terasa berat, aku mundur. Bukan karena aku tak percaya padamu, tapi karena aku takut... takut kamu melihat versi terburuk dari diriku. Aku tidak pergi karena tidak peduli. Aku justru pergi karena terlalu peduli. Aku ingin melindungi kamu... dari diriku sendiri yang sedang berantakan. Tapi di balik diamku, aku menunggu. Setiap notifikasi yang masuk, aku berharap itu dari kamu. Setiap suara dering, aku berharap itu namamu. Setiap malam, aku menatap layar tanpa keberanian untuk memulai duluan. Padahal dalam hati aku berbisik, "Tolong... cari aku. Tanyakan aku kenapa. Genggam aku sebelum aku jatuh terlalu jauh." Tapi kamu tidak datang. Mungkin kamu marah. Atau ka...

Pergi Tanpa Suara

Kadang laki-laki tidak memilih bercerita. Bukan karena tidak percaya, bukan juga karena tidak peduli. Tapi karena dia sendiri belum tahu bagaimana harus menjelaskan rasa sesak yang bahkan tak bisa dia uraikan kepada dirinya sendiri. Dia terbiasa menanggung semuanya sendiri—masalah keluarga, tekanan hidup, tuntutan yang tak pernah berhenti. Semuanya ditahan di dada, seakan kuat padahal sudah retak dalam diam. Dan saat semuanya datang bersamaan, bukan pelukan yang dia cari. Bukan kata-kata penguatan, apalagi nasihat panjang. Dia hanya ingin hilang sejenak—dari dunia, dari beban, bahkan dari orang yang dia cintai. Dia tahu, itu menyakitkan. Dia sadar, diamnya bisa membuat orang lain merasa tak berarti. Tapi baginya, menghilang adalah satu-satunya cara untuk tidak menyakiti lebih dalam. Karena kalau dia tetap tinggal saat jiwanya berantakan, dia takut akan merusak segalanya—termasuk hubungan yang ia jaga dengan sisa tenaga. Jadi, kalau kamu mencarinya dan dia tak membalas... Bukan karena d...

Pindah Terakhir

 Hari ini aku berkemas. Bukan hanya barang-barang yang kupindahkan… tapi juga kenangan. Kotak demi kotak, ada yang berisi pakaian, ada yang berisi buku, tapi yang paling berat adalah kotak yang tak terlihat—kotak kenangan tentangmu. Lucunya, pindah rumah ini rasanya seperti pindah dari sebuah cerita yang tidak selesai. Aku pikir kita akan menulis akhir yang bahagia. Tapi ternyata, kamu lebih dulu pergi… dan aku hanya bisa mengepak sisa-sisa yang tertinggal. Setiap sudut kamar ini punya cerita. Dinding ini pernah jadi saksi ketika aku menatap layar ponsel, menunggumu membalas pesan. Kasur ini tahu betapa seringnya aku terjaga, menanti suara notifikasi yang tak kunjung datang. Bahkan jendela ini... pernah jadi tempat aku mengirim doa-doa yang diam-diam kusisipkan namamu. Tapi sekarang semua harus dibawa pergi, atau ditinggalkan. Cinta kita, kalau dipikir-pikir, juga seperti rumah ini—awalnya nyaman, lama-lama retak di sana-sini. Dan ketika terlalu banyak bagian yang bocor, aku sadar....

Diam Sebelum Menghilang

 Aku masih di sini. Tapi mungkin kamu nggak sadar. Aku masih ngelihat story-mu diam-diam. Masih buka chat lama kita, masih inget obrolan receh yang cuma kita berdua yang ngerti. Tapi aku udah nggak ngetik “hai” lagi. Udah nggak nanya “udah makan belum?” atau pura-pura nyari topik biar bisa ngobrol. Aku mundur. Pelan. Nggak dramatis. Nggak pakai pamit. Bukan karena aku main tarik ulur. Tapi karena aku cuma pengen tahu — kamu bakal nyari aku nggak, kalau aku berhenti datang terus? Dan hari-hari itu lewat... Nggak ada pesan masuk dari kamu. Nggak ada “kamu ke mana?” Nggak ada yang nyari. Jadi di situ aku tahu, Diamku bukan kehilangan buatmu. Mundurku bukan lubang dalam hidupmu. Aku hanya... orang lewat. Dan sekarang aku benar-benar pergi. Tanpa dendam. Tanpa marah. Cuma hati yang akhirnya bisa bilang: “Dia memang bukan tempat aku pulang.”

Aku dan 7 Tahun

 "Aku udah sendiri… tujuh tahun. Dan hari ini... aku capek. Bukan capek sendiri, aku terbiasa kok. Makan sendiri, pulang sendiri, sembuh sendiri, ngelawak buat diri sendiri. Aku bahkan udah bisa nemuin cara untuk tetap bahagia... tanpa siapa-siapa. Tapi hari ini... aku mulai ngerasa ada yang kosong. Bukan soal status, bukan soal gengsi. Tapi... aku pengen pulang. Pulang ke pelukan seseorang yang benar-benar nerima aku bukan cuma saat senang, tapi juga waktu aku lelah, marah, atau hancur. Tujuh tahun itu lama. Aku sempat pikir, mungkin aku gak layak. Atau mungkin… aku terlalu banyak luka. Terlalu hati-hati, terlalu takut salah lagi. Tapi masa sih harus sekuat ini terus? Aku juga pengen cerita tanpa harus ngetik panjang-panjang. Pengen dipeluk tanpa harus minta. Pengen ditemenin tanpa harus kuat-kuat sok mandiri. Aku capek bukan karena sendiri itu salah… tapi karena terlalu lama sendiri itu sepi. Dan sesepi-sepinya hari... bukan waktu gak ada orang, tapi saat kamu udah terlalu lama ...

Tanpa Titik, Tapi Selesai

Sudah tiga bulan sejak terakhir kali mereka bicara. Bukan karena bertengkar. Bukan karena saling benci. Tapi karena diam. Dia berhenti mengabari, dan kamu terlalu takut untuk bertanya kenapa. Hari-hari terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak akan datang. Kamu cek notifikasi berkali-kali, berharap ada pesan singkat darinya. Bahkan sekadar "apa kabar?" pun cukup—tapi tetap tak ada. Awalnya kamu pikir dia hanya sibuk. Lalu kamu mulai mencari alasan: mungkin capek, mungkin butuh ruang, mungkin ada masalah. Tapi "mungkin-mungkin" itu tak pernah membawa jawaban. Hanya menambah luka, seperti menggaruk kulit yang tak gatal, makin perih tanpa sebab yang jelas. Sampai akhirnya kamu berhenti menunggu. Kamu sadar, dia memilih diam bukan karena tak punya kata, tapi karena memang tak ingin bicara lagi. Dan dari semua kemungkinan, itu adalah yang paling menyakitkan tapi paling jujur. Kamu tidak dapat kata pamit. Tidak ada penjelasan. Tapi justru dari ketidakhadiran itu, kamu be...

Tertahan di Ujung Lidah

Pernah gak kamu ngerasain, gimana rasanya ingin bilang I love you, tapi gak pernah bisa? Bukan karena gak yakin sama perasaannya, tapi karena tahu, setelah itu segalanya bisa berubah. Aku pernah. Dan masih, sampai sekarang. Setiap kali dia duduk di sampingku, ketawa lepas, cerita tentang harinya yang menyebalkan atau hal-hal kecil yang buat dia bahagia, aku cuma bisa senyum. Padahal di dalam kepala, kalimat itu terus berputar— “Aku cinta kamu. Aku sayang kamu. I love you.” Tapi yang keluar cuma, “Hati-hati ya pulangnya.” atau, “Jangan lupa makan.” Kata-kata aman yang sebenarnya hanya selimut untuk kalimat yang tak pernah berani aku ucapkan. Karena aku tahu, sekali aku bilang I love you, mungkin dia akan diam. Mungkin dia gak akan lihat aku dengan cara yang sama lagi. Mungkin… aku akan kehilangan satu-satunya tempat di mana aku bisa jadi diri sendiri. Lucu ya. Kata sesederhana itu, tiga kata, delapan huruf, bisa menakutkan sekali. Bisa mengguncang hubungan yang selama ini terasa nyaman,...

Tak Semua Harus Sesuai Rencana

 Kadang aku masih bertanya-tanya... kenapa semuanya berubah secepat itu? Dulu aku punya rencana. Matang. Tersusun rapi. Seperti peta jalan yang sudah kupelajari berulang-ulang. Aku tahu kapan harus belok, kapan harus berhenti, dan ke mana harus sampai. Tapi hidup... ternyata bukan soal seberapa hebat aku merancang. Kadang, dia cuma tertawa kecil, lalu membawaku ke arah yang sama sekali tak kusangka. Awalnya aku marah. Kecewa. Kenapa tidak bisa seperti yang kumau? Aku merasa gagal, merasa tertinggal. Semua orang seperti berlari, sementara aku—terjebak di satu titik, memandangi peta yang tak lagi berlaku. Tapi pelan-pelan... aku mulai belajar. Mungkin memang ini jalanku. Jalan yang tidak kuinginkan, tapi mungkin... yang kubutuhkan. Perjalanan ini mengajarkanku banyak hal. Tentang kehilangan, tentang melepaskan, dan tentang menerima. Tentang bagaimana berdiri lagi meski tanpa tahu arah pasti. Tentang bagaimana percaya, bahwa meski tidak sesuai rencana... bukan berarti sia-sia. Kini ak...

Dulu Pikirku Dewasa Itu Indah

Dulu, waktu kecil, aku selalu pengen cepat-cepat dewasa. Aku iri lihat orang dewasa bisa tidur larut, keluar rumah sendiri, makan mie kapan aja, dan gak disuruh-suruh mandi. Kupikir, jadi dewasa itu seperti jadi pahlawan di film—kuat, bebas, dan berani. Tapi ternyata, dewasa datang tanpa aba-aba. Dia datang pelan, lewat tagihan listrik yang harus dibayar sendiri, lewat isi dompet yang kadang cuma cukup buat makan sehari. Datang lewat malam-malam sepi yang harus dilawan sendirian, karena semua orang sibuk dengan perang mereka masing-masing. Dewasa itu bukan soal bisa beli barang pakai uang sendiri, tapi tentang menahan diri untuk gak beli apa-apa, karena harus bayar kos, bayar cicilan, bantu keluarga. Dewasa itu bukan soal bisa memilih sesuka hati, tapi tentang belajar menerima kenyataan dari pilihan yang tidak selalu membahagiakan. Kadang, aku kangen jadi anak kecil lagi. Yang satu-satunya tanggung jawabnya cuma ngerjain PR dan tidur tepat waktu. Yang kalau jatuh, tinggal nangis dan ad...

Laki-laki yang Diam dan Rumah yang Tak Pernah Ada

 Aku bukan tipe lelaki yang pandai bercerita. Bukan karena tidak ingin, tapi karena tak tahu bagaimana harus memulai. Kata-kata sering kali tertahan di tenggorokan, dan ketika semuanya terlalu berat, aku lebih memilih diam. Bukan tak punya luka. Tapi aku tahu, tidak semua orang siap mendengar luka yang kusembunyikan. Setiap kali masalah datang bertubi-tubi pekerjaan, keluarga, tekanan hidup  aku mencari tempat untuk pulang. Bukan rumah dalam bentuk bangunan, tapi seseorang... atau sesuatu... yang bisa jadi pelukan saat dunia terasa terlalu asing. Tapi nyatanya, aku tak punya itu. Teman-temanku bilang aku kuat. Tegas. Tahan banting. Mereka tak tahu, bahwa setiap malam aku berbicara dengan langit-langit kamar, berharap ada satu saja alasan untuk tetap berdiri esok hari. Kadang aku duduk di warung kopi pinggir jalan, menyulut sebatang rokok, menatap kosong ke jalanan, pura-pura sibuk dengan ponsel. Bukan karena ada yang kucari, tapi karena aku sedang menunggu bukan seseorang, tap...

Sudah Biasa, Tapi Tetap Sakit

"Kali ini kalah sama siapa lagi???"     Kalimat yang selalu berputar-putar dikepala, saat hati ini terbuka untuk orang baru. Saking sering aku kalah atau mengalah untuk laki-laki lain kadang hati ini bertanya kapan aku menangnya?     Sampai titik dimana kalo aku pdkt sama cewek dan aku tau dia juga lagi deket sama orang lain, aku mundur tanpa berkata apa pun. Aku sudah tidak ada energi lagi untuk bersaing dengan laki-laki lain apapun itu keadaannya jika dia bisa buatmu bahagia, maka pililah dia jangan aku. Aku pergi tanpa ribut dan aku takan menoleh kearahmu lagi sedikitpun. Aku tidak ingin bersaing karna aku tau pasti aku akan kalah, sebab tulusku dibalas dengan rasa kurang bersyukur itu gak adil Aku hanya ingin perasaanku ini dihargai, karna mungkin ini energi terakhirku untuk jatuh cinta. Ada janji pada diri ini agar tidak terluka lagi "aku akan menunggumu sampai aku melihatmu dengan yang lain setelah itu aku berhenti mengharapkanmu"